Tampilkan postingan dengan label about being a student. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about being a student. Tampilkan semua postingan

The day when I walked to the main gate (and somehow ended up in Inohana Castle)

It was a bright, sunny day with beautiful mixture of white cloud and blue sky. I got bored with my usual route biking to campus through the South Gate. So I though today I wanna walk to the Main Gate. My building just in front of the South Gate so I rarely walk through the Main Gate. But today I felt like to.




It's tiny me over there.


I called a friend while walking but he didn't answer. So just walk with a music in my ears. Kinda in a good mood today. I even wore a skirt. lol.




Midoridai was, as usual, kind of empty. Only when the trains came and went did people get a bit bustling. The rest of the time, it was pretty quiet.

I had a mission to go to the student centre near the Main Gate to print some documents at the printing machine, when I suddenly bumped into a friend of mine. We talk a little and then say goodbye.






After I finished with the documents, I walked to the lab. It's really hot and humid, summer in Chiba.





Looks like in a good mood right.

It doesn’t matter whether you’re pretty or not. What matters is that you feel pretty. Tsaaahhhh. I felt that way today. A good start.


I spent the next hour in the lab, planning to go out somewhere earlier than usual. So I had lunch at Matsuya and took a walk afterward.





Go to the new sports store (Ishii Sports) at Junnu Building. Walking from Chiba St to Chiba Chuo. Tried this Makgeolli (막걸리) for the first time, and I didn't like it, it was too sweet. 





It was really a random walk looking for some good park to sit. Walking again around Chiba Minato, and walked again acrossed the other side, and then suddenly... I arrived at Inohana Castle.




I've been planning to come here for a while, but clearly it was meant to be today's suprise.


Inohana Castle, June 4th 2025


Otsukaresama deshita



Kemarin, entah kenapa rasanya down banget, mentally breakdown. Sampe akhirnya mutusin buat pulang aja kerumah, dari pada di lab tapi pikirannya kemana-mana. Akhirnya beberes dan turun ke bawah, ke parkiran sepeda.


Sampe parkiran sepeda papasan sama aki-aki yang suka ngurus parkiran.

Dia tau-tau bilang: "Otsukaresamadeshita"

Lah langsung nangis deh depan sepedah.

Ya gini deh yang namanya mental breakdown.


“Otsukaresama deshita” (お疲れ様でした) artinya “Terima kasih atas usahamu” atau “Kamu sudah bekerja keras.” Ungkapan ini digunakan untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap seseorang yang telah melakukan pekerjaan atau usaha dengan sungguh-sungguh. Ini adalah cara sopan untuk mengakui dan menghormati usaha keras dan kontribusi yang telah diberikan oleh seseorang. 

(Sumber: cetta.id)


Aki, andai kau tau kemaren itu kulagi butuhhhh banget support dari orang lain, biar terus melangkah. And suddenly you gave it to me. どうもありがとうございます.

It took me weeks to touch the boy's stuff.









Coming back home alone is not a nice experience for me. Bicycles lying on the ground, the nameplate on the door, walking to a dark room alone, dust layering the floor and stuff. On that day, I just opened the window to make the sunlight enter the room and directly go to bed. In the middle of the day.

It took me weeks to touch the boy's stuff.


But life must go on.


The worst feeling is that I feel this is a failure. Which is not. 

This is how God told me that my plan is not good enough, His plan is better.

Ketika Tuhan Bilang Untuk Melangkah.

Setelah sekian banyak hal terjadi dalam jangka waktu dua tahun belakangan, kayaknya sekarang Tuhan tuh lagi bilang: "Mi, ngelangkah aja Mi, langkah kecil-kecil banget juga nggak apa-apa, I have plans for you"


I've been riding a roller coaster for a while, and still, I think. 






A bit crossing the globe, again.







Hello again, Japan :)

Berangkat ke Jepang

Well, akhirnya tiba juga hari berangkat. Yang super chaos karna subuhnya bawa Lintang dulu ke UGD heuheu. Udah nggak apa-apa kok aman alhamdulillah. Super chaos juga karna anak-anak 10 hari terakhir bolak balik demam dan batuk, tapi antigen aman semua. Super chaos juga karna H-1 sayah dapet hasil PCR positif. Gelow. Padahal suspek utama di Lintang yang bisa aja covid karna dia demam lebih dari seminggu, tapi di tes tetep negatif dianya. Untung Kijing nyaranin buat langsung test lagi dan bener aja false positif. Wkwkkw. 3 jam sebelum berangkat ke Jakarta baru punya hasil negatif dan fix bisa berangkat. wkwkw.


Anyway, kita beneran jadi berangkat.


Kita itu saya sama Emeh, satu lagi anak DP yang masuk program master.



Kegiatan nunggu waktunya boarding di bandara itu aneh banget rasanya. Karna nggak ada anak-anak. Udah lama banget rasanya bisa pergi sendiri tanpa buntut, ini pake keluar negri segala haha. Sungguh aneh, sungguh mix feeling pol.


So, we landed in Narita Airport safely. Alhamdulillah. Welcome to Japan!






Keluar-keluar ada Ciwi udah standby menanti.





Sampai Inage Station, udah ada Radit sama Mas Dan ikutan jemput. Horeee. Nggak kayak di Jepang ini mah yaaa haha.



Numpang dulu di dorm nya Radit, soalnya kantor dormnya udah tutup, nggak bisa minta kunci ke dorm kita masing-masing.


Besok paginya langsung dapet kunci dorm! Yeay!




And the new life begin! Hahahhaha



Sebenernya, sampai hari ini, hari ke 10 tinggal di Jepang, masih super aneh rasanya. Kalau pulang ke dorm dari mana-mana, bawa belanjaan ini itu, kok rasanya kayak turis aja, yang dalam beberapa hari lagi bakal balik lagi ke Indonesia. Padahal enggak. Padahal disini udah tidur di kamar sendiri, beli selimut, beli peralatan buat masak, dan lain-lain. Tapi sumpah masih aneh banget, kayak bakal balik aja padahal halu kan ya hhaha.


Well, wish me a good luck! 

Tegang juga mau mulai kuliah lagi setelah lamaaaa sekali nggak jadi mahasiswa. 


Satu Bulan Sebelum Berangkat

Hari ini tanggal 31 Agustus, sementara hari perkuliahan pertama di Chiba tuh 1 Oktober. Autumn Semester. Iya gaes, I am applying Chiba University, Japan :P




Pertengahan bulan lalu akhirnya berhasil menunaikan usaha terakhir: Examination. Jadi dia semacam presentasi gitu, ke dua atau tiga Sensei, lewat zoom. Kayaknya dalam sehari tuh ganti-gantian presentasi (udah ada jadwalnya) orang-orang yang apply ke Chiba. Atau yang daftar ke Lab yang sama aja ya? nggak tau juga haha. Yang jelas Exam ini usaha paling terakhir yang harus dilakuin, sisanya tinggal berdoa. 


Entah juga si Exam ini apa mempengaruhi nilai/kelulusan atau engga saya nggak tau. Yang jelas sampa sekarang LoA (Letter of Acceptance) belum juga keluar. Wkwkkw. Satu bulan lagi bok sebelum masuk, dan pindah, dan lain-lain. Tapi kalo menurut yang udah-udah harus siap-siap aja karna emang Jepang hobinya mepet mepet gini, bisa aja tiba-tiba ngasih tiket buat brangkat minggu depan. Nobody knows. Dan karna beasiswa saya MEXT yang U to U (University to University), jadi ya siap-siap aja buat berangkat katanya, dorm pun disana udah dapet, jadi yaaa...


Jadi anggep aja 1 Oktober udah harus ada di Chiba buat kuliah kan. 1 Oktober itu persis sebulan lagi. Bisa jadi juga berangkat 20 hari lagi, kurang dari sebulan bahkan.


Muaaaaaaaaal.


Belakangan, terutama sebulan kemarin, kalo lagi inget mau brangkat, mau pindah. Edan langsung mual. Terus mencoba meredam stress dengan minum kopi. Ya tambah mual. Hahhahhaa.

Mau cerita mulai dari mana ya. Jadi bingung karna sejujurnya belakangan ini setiap hari sungguh mixed feeling, dan super kek roller coaster moodnya, naik turun. Overexcited, lalu turun ke mual lagi. Hahahhaha katro giniiii. Buku-buku udah mulai dipak, barang Kotak Mainmainan apalagi. Beberapa minggu kemarin kerjaan saya antara ke imigrasi, ke Dokter Gigi beresin gigi yang bolong-bolong, ke Dokter Obgyn meriksa KB harus diganti dulu apa engga, ke bank beberes rekening, pokonya beresin segala urusan yang harus diberesin. Kalo lagi sibuk, ya kelewat aja satu hari. Tapi adakalanya nggak sibuk dan terlintas berbagai macam pikiran. Lalu mual lagi. Hahhahahha.


Kalo menurut salah satu temen saya, ini soalnya mau keluar dari zona nyaman. Betul jugaaaaaa.


Selama ini saya tuh di Bandung Bandung aja. Sementara banyak temen-temen saya yang udah berseliweran pergi sekolah keluar negri, lalu udah pulang lagi :P ya saya masih disini, di Bandung. Hidup berkeluarga ngurus dua anak. Gejolaknya ya cuma itu (walaupun ini roller coasternya beda lagi yaaa). S2 udah beres sekitar 8 tahun yang lalu, terakhir di sidang dosen ya 8 tahun lalu itu heuhue. Abis itu ya kehidupan ibu-ibu dengan anak aja, sambil bisnis dan ini itu.


Nah sekarang ini saya bakal kembali ke kehidupan akademis. Jadi mahasiswa lagi. Sejujurnya cukup tegang karena udah lama banget nggak kuliah kan. Terus, ini PHD bok, siapa yang sangka banget saya beneran ngambil PHD. Sampe gitu otak saya buat ngejalanin PHD? OMG. Meskipun dari dulu emang pengen kuliah lagi, tapi ternyata sekarang bener-bener di depan mata omaygoood. Jadi, sejak beberapa bulan lalu apply beasiswa, mulai berusaha switch lagi, dari ibu-ibu pedagang mode on, ke mahasiswa mode on. Baca satu jurnal aja kok kayak siput rasanya :P


Satu hal lagi yang bikin mual adalah: ninggalin anak-anak. Hiiiikkksss.

Walaupun dari awal udah tau banget bakal misah dari keluarga dulu, tapi semakin deket ke keberangkatan ternyata kuatirnya makin macem-macem ya. Gimana kalo pada gantian sakit? gimana kalo nanti anak-anak dibawa ke kantor ama Kijing? Tidurnya gimana? Bekel sekolahnya gimana? Makannya gimana? Gimana kalo *amitamit kena covid? Gimana kalau udah mau berangkat malah demam? Huhu. Seliweran sumpah. Gimana kalo ternyata saya yang malah nangis-nangis kangen? Huhuuuuuuu.


Bismillah lah ya. Huhuuuuuuu. Ternyata mellow juga. Si Mia yang tadinya pede-pede aja, nggak mellow-mellow amat mau ninggalin anak, ternyata bisa gini juga hahhaa.


Bismillah. Karna emang keputusan udah diambil beberapa bulan yang lalu. Dan ninggalin anak-anak disini juga sama bapaknya, bukan orang lain, ya mari kita coba jalanin. Yang paling penting sih satu: Bapaknya bersedia. Hahhaha. Ini sih yang dari awal menguatkan buat daftar, karna emang Kijing dari awal oke bakal megang anak dulu sendiri. Mudah-mudahan kalo niatnya baik, dilancarkan amiiiiiinnn. Semoga dalam 3-4 bulan (prediksi ku ngeliat yang udah-udah), bisa berkumpul lagi berempat tidak kekurangan suatu apapun. Doain yaaa.


Mixed feeling kan jadinya.

Mau ninggalin anak, but at the same time embracing my longest me time ever :P


wkwkwkkww.


Tentang Beasiswa

Sekitar enam bulan yang lalu. Saya dihadapin sama sebuah persimpangan hidup. Datang tawaran buat sekolah lagi. Datang surat kesediaan untuk dicalonkan sebagai kandidat Doctoral Student yang harus ditandatangani dalam 5 jam saja. Gils nya, 5 jam tapi mengubah hidup.


Kuliah diluar negri itu salah satu mimpi saya yang ganjel, belum tercapai. Dan rasanya kayak belum ada waktu yang pas berhubung udah jadi ibu-ibu dan anak-anak rasanya masih teralu kecil. Jadi selama ini mimpi itu dikesampingkan dulu. Iya nggak sih, kalo jadi ibu-ibu ada beban anak yang harus dipikirin berkali-kali lipat? Bukan berarti sebagai penghalang ya, tapi ya memang ada tanggung jawab lebih dibanding waktu belum punya anak dulu.


Tapi bukan berarti mimpi-mimpi hilang begitu aja. Saya percaya semua ada waktunya. Kalau ada mimpi yang nggak akan tercapaipun, harusnya ada mimpi-mimpi lain yang akan bisa tercapai.


Beberapa hari terakhir ini, setelah menyampaikan kabar baik. Terharuuu banget, karna banyak banget yang bilang ikut seneng. Terharu ku dengernya, tulus banget ikut senengnya kayaknya. Terus diluar dugaan banyak temen-temen yang nawarin bantuan. Makasi yaaa temen-temenku, I mean it.




Iya gaes, dapet beasiswanya :) Alhamdulillah :)

Masih ada satu step lagi presentasi bulan depan buat masuk sekolahnya,

doakan yah :)